Lintasan Pikiran dan Pintu Maksiat

Berita588 views
Adapun lintasan pikiran itu lebih sulit karena ia merupakan awal kebaikan dan keburukan. Darinya muncul keinginan- keinginan, cita-cita, dan tekad. Barang siapa mampu menjaga diri dari lintasan pikirannya, ia dapat mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Dan, barang siapa yang dikuasai oleh lintasan pikirannya, tentu hawa nafsunya menguasai dirinya. Barang siapa yang menyepelekan lintasan pikiran, ia pasti terjerumus dalam kehancuran. Lintasan pikiran akan selalu mengganggu hati hingga menjadi angan-angan kosong. Firman Allah Swt.: 

“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fata¬morgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang- orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya suat u apa pun. Dan, didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup. Dan, Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.( An-Nuur [24] : 39)” 

Manusia yang paling rendah cita-cita dan kehormatannya adalah yang paling terkuasai oleh angan-angan yang menipu. Ia lalu berusaha meraih dan menikmatinya. Sungguh, angan- angan adalah modal orang-orang yang bangkrut dan dagangan para pengangguran. Angan-angan juga merupakan dorongan jiwa hampa yang merasa puas dengan khayalan dan mimpi palsu sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair: 

Angan-angan adalah rasa segar dalam kehausan 
Dengannya kulenyapkan derita hausku hingga menjadi segar 
Jika ia menjadi nyata, merupakan sebaik-baik cita-cita 
Jika tidak, sungguh, hidupku hanya sia-sia belaka 

Angan-angan adalah perkara terburuk yang menimpa manusia, ia muncul sebab kelemahan dan kemalasan. Ia melahirkan sikap keterlaluan, menyia-nyiakan, serta penyesalan. Orang yang berangan-angan terhadap sesuatu yang tak sanggup diraihnya secara langsung, tentu ia akan mengalihkan gambarannya ke dalam hati. Kemudian, ia jadikan angan-angan itu sebagai ilusi dan khayalan dengan pikirannya. Semua itu sama sekali tidak berguna baginya, la menjadi seperti orang yang tengah kelaparan dan kehausan yang membayangkan makanan dan minuman lalu makan dan minum dalam khayalannya saja. 

Orang yang suka terhadap hal tersebut menunjukkan bahwa jiwanya rendah dan hina. Sesungguhnya, kemuliaan, kebersihan, kesucian, dan keluhuran jiwa adalah dengan menafikan segala lintasan pikiran yang bersifat semu dan tidak pernah merelakannya masuk ke dalam hatinya. 

Ada empat macam lintasan pikiran yang menguntungkan bagi hamba: 
Lintasan pikiran yang mendatangkan manfaat di dunia. 
Lintasan pikiran yang menolak bahaya di dunia. 
Lintasan pikiran yang mendatangkan kebaikan di akhirat. 
Lintasan pikiran yang menolak bahaya di akhirat. 
Hendaklah seorang hamba membatasi lintasan pikiran, bayangan, dan cita-citanya pada empat bagian tersebut. Apabila lelah dibatasi sedemikian rupa, ia tentu dapat menghimpun semuanya secara bulat. Jika lintasan pikirannya begitu banyak, hendaklah ia mendahulukan yang lebih penting. Pertama, perkara terpenting yang ia khawatir kehilangannya. Kedua, perkara kurang penting yang ia tidak khawatir kehilangannya. Dan, masih ada dua yang tersisa, yakni perkara penting yang tidak akan lepas dan perkara yang tidak penting tapi bisa terlepas. 

Masing-masing menuntut untuk didahulukan. Di sinilah letak kebingungannya. Jika yang didahulukan adalah yang penting, dikhawatirkan yang kurang penting akan terlepas. Sebaliknya, jika yang didahulukan adalah yang kurang penting, yang penting pun bakal terlewatkan, sementara keduanya tidak mungkin untuk digabungkan. Apabila salah satunya berhasil dicapai, yang lain pasti terlewatkan. 

Di sinilah letak pikiran, pemahaman, dan pengetahuan dipergunakan. Dari sini pula akan tampak siapa yang luhur, siapa yang berhasil, dan siapa yang gagal. Kebanyakan mereka yang menggunakan akal dan pengetahuan, lebih memilih kepada yang kurang penting dan tidak akan terlepas daripada memilih yang penting dan bisa terlepas. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah mengalami hal yang demikian, jarang maupun sering. 

Penilaian dikembalikan kepada kaidah agung yang menjadi landasan utama syariat dan ketentuan Tuhan. Kepada-Nyalah seluruh penciptaan dan segala urusan dikembalikan. Landasan tersebut adalah memilih yang lebih besar dan lebih mulia di antara dua kemaslahatan, meskipun harus kehilangan kemaslahatan yang lebih rendah, atau memilih yang terendah di antara dua keburukan dengan menjauhkan kerusakan yang lebih besar. 

Hasilnya, suatu kemaslahatan bisa saja terlewatkan demi tercapainya kemaslahatan yang lebih besar di antara keduanya. Dan, keburukan pun bisa saja dilakukan demi menolak kerusakan lain yang lebih besar. 

Lintasan pikiran orang yang berakal tidak akan menerjang batas koridor di atas. Dengan membawa koridor itulah syariat datang. Seluruh kebaikan dunia dan akhirat bertumpu padanya. Pikiran yang paling mulia, paling agung, serta paling membawa manfaat adalah pikiran yang ditujukan kepada Allah dan akhirat. Adapun pikiran yang ditujukan untuk-Nya ada beraneka ragam. 

Pertama, memikirkan, menelaah, dan memahami ayat- ayat-Nya. Allah tidak menurunkan ayat-ayat-Nya hanya untuk dibaca saja, akan tetapi membacanya hanya merupakan jembatan pengantar. Sebagian ulama salaf berkata, ‘Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan. Oleh karena itu, bacalah dan amalkan!” 

Kedua, merenungi dan mengambil pelajaran dari tanda- tanda kekuasaan Allah sekaligus menjadikannya dalil yang menunjukkan atas nama, sifat, kebijaksanaan, kebaikan, dan adanya Dia. Sungguh, Dia telah menganjurkan kepada para hamba-Nya untuk memikirkan, merenungkan, serta memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya dan Dia juga mencela orang-orang yang lalai akan hal itu. 

Ketiga, merenungkan nikmat dan kebaikan yang telah Allah berikan kepada makhluk-Nya dengan berbagai macam bentuk, seperti luasnya, ampunan, rahmat, dan sifat santun-Nya. Ketiga perkara tersebut menumbuhkan makrifat, cinta, takut, dan harapan di dalam hati. Renungan dan dzikir secara terus-menerus dapat mencelupkan hati dalam makrifat dan cinta kepada-Nya. 

Keempat, memikirkan aib dan cacat yang ada pada diri sendiri dan cacat dalam amal. Hal yang demikian itu sangatlah bermanfaat karena merupakan pintu segala kebaikan dan sangat berpengaruh dalam mengendalikan nafsu yang memerintahkan kepada keburukan (an-nafsu al- ammaarah). Jika nafsu ammaarah telah hancur, posisinya akan digantikan oleh jiwa yang tenang (an- nafsu al-muthmainnah) sehingga hati menjadi semakin hidup dan keputusan berada padanya. Ia akan senantiasa memerintahkan anggotanya kepada kemaslahatan. 

Kelima, memikirkan tugas dan kewajiban yang harus dikerjakan serta fokus pada keduanya. Orang arif adalah anak zamannya. Jika ia menyia-nyiakan waktu, seluruh kemaslahatannya pun akan telantar karena segala kemaslahatan itu terlahir seiring perjalanan waktu. Jika ia telah menyia-nyiakan waktu, berarti ia telah kehilangan kesempatan itu selamanya.

Imam Syafi’i berkata, “Aku berkumpul dengan kelompok sufi. Tidak ada yang aku dapatkan kecuali dua kalimat. Pertama, ‘Waktu adalah pedang. Jika engkau tidak memotongnya, tentu ia akan menebasmu.’ Kedua, Jika dirimu tidak disibukkan dengan perkara yang benar, dirimu tentu disibukkan dengan perkara yang batil.” 

Oleh sebab itu, waktu bagi manusia sama dengan umurnya. Ia yang menjadi inti kehidupan abadi di surga yang penuh nikmat dan yang menjadi inti kehidupan abadi di neraka yang penuh dengan siksa yang pedih. Waktu berlalu lebih cepat daripada awan. Apa pun yang terisi di dalamnya yang tertuju kepada Allah merupakan umur kehidupan, dan selain itu tidaklah dihitung sebagai umur karena kehidupannya sama seperti kehidupan binatang. 

Apabila waktu menggilashamba, sementara ia dalam kelalaian, menuruti syahwat, dalam angan-angan kosong, serta banyak waktu yang dihabiskannya hanya untuk tidur dan kebatilan, berarti kematian lebih baik baginya daripada hidupnya yang seperti itu. 

Apabila seorang hamba yang menghabiskan waktunya dengan shalat, nilainya terdapat dalam apa yang dipikirkan dalam shalatnya. Shalatnya itu tidak akan ada nilainya jika ia tidak khusyuk kepada Allah, dan malah memikirkan hal lain. 

Apa pun selain empat macam lintasan pikiran di atas adalah bisikan setan, angan-angan kosong, serta tipuan bohong seperu pikiran orang yang mabuk, resah, dan was-was. Ketika hakikat telah terbuka, mereka seolah berkata: 

Jika kedudukan cintaku di sisi-Mu seperti ini 
Sungguh, aku telah menyia-nyiakan waktu 
Angan telah mengendalikanku begitu lama 
Dan sekarang, ia hanyalah mimpi belaka 

Ketahuilah, datangnya lintasan pikiran tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah ajakan dan rayuannya. Orang yang terlintas sesuatu dalam benaknya laksana orang yang berjalan di atas jalan. Jika kamu tidak mengikutinya atau membiarkannya, ia akan berlalu begitu saja. Namun, jika kamu mengundangnya, tentu ia akan menyihirmu dengan tipu daya dan rayuannya. Tipuannya terasa ringan bagi jiwa yang hampa, tapi berat bagi jiwa yang tenang dan mulia. 

Allah Swt. menancapkan dua jiwa dalam diri manusia, yakni jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-nafsu al- ammaarah) dan jiwa yang tenteram (an-nafsu al-muthmainnah). Kedua jiwa itu senantiasa bertarung sehingga hal yang ringan bagi yang satu terasa berat bagi yang lain, dan kesenangan yang satu menjadi kepedihan bagi yang lain. 

Bagi an-nafsu al-ammarah, tiada yang lebih berat daripada beramal untuk Allah dan memilih apa-apa yang diridhai-Nya daripada hawa nafsunya meskipun itu yang paling bermanfaat baginya. Sebaliknya, hal yang berat bagi jiwa yang tenteram adalah beramal untuk selain-Nya dan menuruti ajakan hawa nafsu, meskipun itu yang paling berbahaya baginya. 

Malaikat menyertai jiwa yang tenteram pada sisi kanan hati, sedangkan setammengiringi jiwa yang memerintahkan keburukan pada sisi kirinya. Perang di antara keduanya tidak akan pernah berakhir hingga ajal tiba. Kebatilan akan selalu berpihak pada setan dan jiwa yang memerintah kepada keburukan, sementara kebenaran senantiasa berpihak nada malaikat dan jiwa yang tenteram. 

Perang terus berlangsung. Menang dan kalah silih berganti. Kemenangan berada dalam kesabaran. Barang siapa bersabar dan terus bersabar, selalu menjaga pertahanan, dan bertakwa kepada Allah, ia tentu akan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat. Dia Swt. telah menggariskan ketentuan yang tidak akan pernah berubah, yaitu kesudahan yang baik diperuntukkan bagi ketakwaan dan orang-orang yang bertakwa. 

Hati adalah papan kosong, sementara lintasan pikiran adalah ukiran yang terukir di atasnya. Bagaimana mungkin, orang yang berakal merelakan ukiran dusta, tipu daya, angan-angan kosong, dan fatamorgana terukir di atas papan hatinya?! Hikmah, ilmu, dan petunjuk apakah yang tergambar dalam ukiran semacam itu?! Apabila ia ingin mengukir kebenaran di atas papan kalbunya, ia ibarat menulis ilmu pengetahuan pada buku catatan yang sudah penuh dengan coretan-coretan hingga tulisannya menjadi percuma. Jika ia tidak mengosongkan hatinya dari segala lintasan pikiran yang rendah, lintasan pikiran yang bermanfaat tidak akan dapat menetap di dalam hatinya karena lintasan pikiran hanya dapat menetap pada tempat yang masih kosong. Ada yang mengatakan: 

Hawa nafsu datang padaku sebelum aku mengenalnya 
Hingga ia menyerang dan menguasai hatiku dengan khayalan 

Oleh sebab itu, banyak para salik penempuh jalan menuju Allah membangun alam ruhaninya dengan menjaga lintasan pikiran. Mereka tidak akan membiarkan lintasan pikiran masuk ke dalam hati mereka hingga hati bisa menerima ketersingkapan hakikat yang mulia. Mereka senantiasa menjaga hati mereka dengan tanpa membiarkan sedikit pun lintasan pikiran masuk ke dalamnya. Jika tidak, setan pasti akan masuk ke dalam hati yang sedang kosong, dan memenuhinya dengan kebatilan yang ia gambarkan sebagai keluhuran dan kemuliaan. Ilusi semacam itu menggantikan lintasan pikiran yang merupakan ilmu dan petunjuk. 

Apabila hati telah kosong dari ilmu dan petunjuk, setan lalu datang dan menemukan ruang kosong di dalamnya, kemudian ia mengisinya dengan sesuatu yang sesuai dengan kondisi pemiliknya. Jika hati itu tidak bisa ia isi dengan sesuatu yang hina, ia mengisinya dengan keinginan ibadah melulu dan sama sekali tidak ada keinginan yang menjadikannya semakin baik. Padahal, tidak ada kebaikan dan kebahagiaan kecuali dengan adanya keinginan untuk menjalankan yang diinginkan Allah dengan mengerjakan perintah dan segala yang dicintai serta diridhai-Nya, hatinya sibuk dan perhatiannya tercurahkan untuk semakin lebih mengenal-Nya, menjalankan perintah-Nya dan mengamalkannya di tengah makhluk-Nya, menyediakan jalan untuk tujuan itu, dan bergaul dengan makhluk sebagai sarana pengamalan keinginannya itu. Namun, setan menyesatkan mereka dari semua itu dengan mengajak mereka untuk meninggalkan dan mengabaikannya melalui sikap zuhud terhadap lintasan pikiran tentang dunia dan sebab-sebabnya. 

Setan juga memberikan ilusi kepada mereka bahwa kesem¬purnaan ibadah mereka itu dengan beribadah melulu dan pikiran kosong. Sungguh, yang demikian ini tidaklah benar karena kesempurnaan itu terletak pada terpenuhinya hati dengan keinginan dan pikiran dalam segala perkara yang dapat mendatangkan ridha Allah Swt. serta usaha untuk bisa sampai kepada-Nya. 

Manusia paling sempurna adalah yang keinginan dan pikirannya lebih banyak tercurahkan pada itu semua. Sebaliknya, orang yang paling cacat adalah orang yang pikiran dan keinginannya hanya untuk kepentingan hawa nafsunya di mana saja ia berada. 

Maka dari itu, banyak sekali lintasan pikiran pada diri Umar bin Khathab Ra. untuk menggapai ridha Allah Swt. Kadang, ia menggunakannya ketika shalat. Ia pernah menyiapkan pasukan di saat sedang shalat. Dengan demikian, ia telah mengumpulkan antara shalat dan jihad. Ini merupakan gabungan beberapa ibadah dalam satu ibadah. Ini merupakan gerbang mulia yang tidak dapat dilalui oleh siapa pun kecuali orang yang jujur, cerdas, berilmu, dan memiliki tekad kuat dengan menggabungkan ibadah lain dengan ibadah yang sedang ia lakukan. Itu merupakan karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

[islamiwiki.blogspot.co.id]

Komentar